Dokumentas: LPM Mantra
LPM Mantra—Mendorong generasi muda giat membaca, menulis, dan merawat kebudayaan lokal, Forum Studi Independensia menggelar Lomba Esai Pemajuan Kebudayaan Maluku Utara. Kegiatan ini menjadi wadah literasi yang mempertemukan gagasan, riset, dan refleksi kritis anak muda melestarikan kekayaan budaya daerah yang kerap terpinggirkan dalam arus informasi digital.
Lomba esai ini mengusung tema umum “Pemajuan Kebudayaan Maluku Utara” dan berlangsung sejak 8 November hingga 5 Desember lalu. Kegiatan setingkat mahasiswa dan pelajar SMA itu diikuti sejumlah puluhan peserta. Dari banyaknya peserta, diseleksi hingga terpilih 20 finalis terbaik.
Lomba yang melibatkan puluhan peserta ini juga menghadirkan dewan juri yang memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda, yakni Herman Oesman Sosiolog, Irfan Ahmad sejarawan, dan Galim Umabaihi praktisi media.
Koordinator Independensia, Samsuria Buamona mengatakan, kegiatan lomba esay yang dilaksanakan Forum Independensia adalah langkah mendorong pemajuan kebudayan Maluku Utara. “Agenda ini bagian dari upaya kami melibatkan anak muda terlibat secara aktif menghasilkan karya yang bisa melestarikan kearifan lokal,” ujarnya usai lomba esay, Jumat (5/12/2025).
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya ini mengaku lomba yang dilangsungkan bagian dari program fasilitasi pemajuan kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XXI Maluku Utara. “Kegiatan berjalan sukses dan menampilkan presentasi dari 20 peserta yang telah lolos seleksi,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu dewan Juri lomba esay Galim Umabaihi menyampaikan, perkembangan teknologi yang sangat cepat sering kali membuat mahasiswa dan siswa cenderung pragmatis dalam mengonsumsi informasi, tanpa proses berpikir kritis dan produksi pengetahuan. Karena itu, menurutnya lomba esay yang dilaksanakan Forum Independensia merupakan langkah merawat literasi.
“Kegiatan ini memberikan pengalaman praktis bagi peserta dalam mendapatkan suatu pengetahuan baru dengan cara yang lebih kritis dan menulis. Tentu saja mereka membantu mempertahankan kebudayaan dan terus berliterasi,” ungkapnya saat diwawancarai Mantra usai lomba esay.
Terpisah, Ketua Panitia Fuad mengatakan, persoalan kebudayaan di Maluku Utara masih minim terdokumentasikan. Ia menekankan peran strategis media tulisan sebagai jembatan pengetahuan antara generasi muda dan warisan budaya lokal.
“Lomba esay bertujuan mendorong tulisan menjadi media edukasi pelestarian budaya lokal. Harapannya dengan adanya tulisan ini anak muda dapat berperan aktif mendokumentasikan kebudayaan yang tidak diketahui banyak orang dan kemudian diteruskan ke generasi-generasi berikutnya,” jelasnya.
Lomba esay ini diakhiri dengan rangkaian penilaian hasil karya mahasiswa dan siswa oleh dewan juri. Mereka juga menetapkan empat pemenang lomba. Diantaranya juara 1 diraih oleh Nurhayati Polpoke dengan esai berjudul “Bukan Sekadar Permainan Biasa: Nilai dan Manfaat Jilo-Jilo dalam Pembentukan Karakter Anak”. Juara 2 diraih oleh Siti Melandari Abdullah melalui karya “Ritus Momori di Maluku Utara: Tata Cara, Nilai Sakral, dan Transformasinya di Era Modern”. Sementara Juara 3 diraih oleh Agung dengan esai berjudul “Ethotech Boost: Revitalisasi Ruma Tila-Tila Suku Pagu-Modole sebagai Teknologi Tradisional untuk Solusi Pertanian Berkelanjutan di Maluku Utara”. Sedangkan juara harapan 1 diraih Arriziq Ibnu dengan esay berjudul “Soya-Soya, Tarian yang Menghidupkan Ingatan Sejarah Kesultanan Ternate”.
Penulis: Agung/ Mantra
Editor : Tim Redaksi
LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…
LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…
LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…
LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…
Akedemisi Horizon Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…
LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…