Feature

Jejak Perdagangan Cengkeh di Pasar Pabean Surabaya

LPMMantra- Siang itu, suasana pasar Pabean Kota Surabaya begitu ramai. Para pedagang membuka gerai rempah. Berbagai jenis Rempah Cengkeh, Pala, kayu manis dan Lada dijajakan di hampir setiap sudut pasar itu.

Bangunan tua seperti menara Syahbandar, pabrik kopi dan pertokoan berdiri kokoh, meski usianya sudah ratusan tahun. Arsitektur bangunan pertokoan dan Syahbandar bergaya Eropa. Sebagian bangunan  dindingnya mulai terkelupas, namun masih digunakan untuk aktivitas berdagang rempah.

Baca Juga : Pendidikan Tinggi dan Realitas Lapangan Kerja: Organisasi Mahasiswa di Persimpangan Tantangan

Di pasar ini 0rang Melayu, Tionghoa dan Madura menjajakan berbagai macam jenis rempah, termasuk cengkeh dan pala.

Bukan hanya  itu pasar rempah tertua ini, telah aktif jauh  sebelum bangsa Eropa datang ke Nusantara. Kala itu kerajaan Majapahit telah menjadikan sungai Kalimas sebagai titik perputaran ekonomi. Dalam prasasti kamalagyan (1037 Masehi) dan prasasti Canggu (1358) menyebutkan keberadaan pelabuhan penting bernama Hujang Galuh yang lokasi tidak jauh dari Mojokerto. Bukti arkeologis ini pentingnya kawasan sungai Kalimas dan Pasar Pabean sebagai pusat perdagangan rempah kala itu.

“Pelabuhan Kalimas di bangun sejak abad 17 dan menjadi pusat perdagangan rempah dan masuknya kapal dari berbagai penjuru Nusantara” ujar Pemandu Wisata Situs Cagar Budaya Pasar Pabean Surabaya, Guncarsono Prasetyo saat memandu para Laskar Rempah,Jumat 3 Juli 2022 lalu.

Ia bilang, rempah-rempah yang diperdagangkan di pelabuhan dan Pasar Pabean kala itu, datang dari semua daerah Nusantara. Semisal lada dari Sumatra dan Jawa, serta Cengkeh maupun pala yang datang dari Maluku.

“Rempah primadona yang diperjualbelikan di pasar Pabean ini, cengkeh dan pala,” tuturnya.

Pelabuhan Kalimas sudah terkenal lama jauh sebelum orang-orang Eropa datang dan memonopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Pelabuhan yang sudah ada sejak abad 14 itu, menyimpan banyak cerita sejarah kejayaan rempah.

Baca Juga : Putus Koneksi: Cerita Masyarakat Wasile Selatan dalam Mengakses Internet

Guncarsono mengungkapkan, sungai Kalimas dulunya digunakan sebagai jalur perdagangan rempah. Di mana Pelabuhan Kalimas pada masanya merupakan pelabuhan penting dalam perniagaan rempah Nusantara.

“Sungai ini dulunya menjadi sentral perdagangan, tempat dimana pedagang menjajakan komoditas rempahnya. Karena itu di era Belanda, mereka membangun pelabuhan ,” ujarnya.

Ia menjelaskan masyarakat daratan Surabaya menggunakan sungai sebagai basis perdagangan. Karena letak geografis dan daratan luas sungai menjadi alternatif penting dalam perdagangan dan digunakan sebagai penggerak ekonomi.

“Karena itu Belanda kemudian membangun kanal yang menghubungkan laut dan sungai. Kalimas menjadi penting dalam perniagaan rempah, hilir mudik perahu sampan yang berukuran kecil digunakan dalam mengangkut rempah dan hasil tangkapan ikan, Para pedagang membawa masuk berbagai jenis hasil komoditas untuk diperdagangkan,” jelasnya sembari menunjuk bekas pelabuhan era kolonial.

Recent Posts

Dodengo: Seni Beladiri Suku Gamkonora Halmahera Barat

LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…

4 minggu ago

Lewat Sekolah Relawan, Anak Muda Sagea Perkuat Peran Jaga Lingkungan

LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…

1 bulan ago

9 Tahun Berkarya, LPM Mantra Galar Bukber Alumni

LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…

1 bulan ago

Aksi IWD FPUD: Suara Perempuan, Suara Kelas Tertindas

LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…

1 bulan ago

Eksistensi Ekuilibrium: Puisi-Puisi Wahyu Setiyawan

Akedemisi Horizon  Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…

1 bulan ago

Devaluasi Perlawanan Dan Kegagalan Structural Kesetaraan Gender

LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…

1 bulan ago