Feature

Cerita Aswad Petani Tubo, Raup Untung Dari Daun Cengkeh

“Surga Cengkeh ada di timur kenapa tidak dimanfaatkan. Dari dulu hingga hari ini cengkeh menjadi tanaman bersejarah yang identik dengan tanah Maluku Kie Raha” Aswad Minggu Petani Tubo.

Pagi itu, matahari mengeluarkan letupan cahayanya, suasana begitu cerah, jalanan Kelurahan Tubo Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate begitu ramai, petani berlalu lalang pergi ke kebun.

Aswad Minggu (51) bergegas ke kebun cengkeh miliknya. Pria asal Tubo itu mengikat golok di pinggang, memegang karung goni berukuran besar. Ia menuju kebun cengkeh yang jaraknya sekira 500 meter dari rumah.

Tiba di kebun, Aswad memungut dedaunan cengkeh kering yang sudah ditampung, dan  dahan pohon cengkeh tua yang dipotong sekitar satu bulan lalu. Daun cengkeh itu berwarna coklat, sebagian masih menempel dari dahannya. Aswad membungkuk, sesekali memasukkan daun cengkeh ke dalam karung Goni.

Aktivitas memungut daun cengkeh ini sudah dilakukan petani asal Tubo itu sejak lama. Ia biasanya memanfaatkan waktu luang saat

libur, untuk meraup pundi-pundi rupiah dengan daun cengkeh.

Jika daun cengkeh biasanya  hanya menjadi sampah organik yang bertaburan di bawah pohon,  dimanfaatkan menjadi minyak melalui proses penyulingan oleh Aswad. 

Baca Juga : Putus Koneksi: Cerita Masyarakat Wasile Selatan dalam Mengakses Internet

Meski sehari-hari bertugas sebagai pengurus masjid Tubo dan staf kelurahan Tubo. Saat waktu luang, Aswad mengumpulkan dedaunan cengkeh yang berserakan di bawah pohon cengkeh kebunnya. Setelah mengumpulkan daun cengkeh, aswad kemudian membawa ke lokasi penyulingan yang jaraknya sekira 300 meter.

“Saya biasa bangun pagi kalau ada waktu luang, saya manfaatkan untuk mengumpulkan daun cengkeh, kemudian saya bawa ke  lokasi penyulingan minyak cengkeh tepat di kebun saya,” ujarnya, pada Mantra medio 2022 lalu.  

Sejak 2019 Petani cengkeh Ternate  itu menjalankan rutinitas  memproduksi minyak daun cengkeh. Ia mengaku mendapat ide pembuatan minyak cengkeh sekitar awal 2019.

“Saya mulai memanfaatkan daun cengkeh untuk penyulingan minyak sejak lama. Alhamdulillah berjalan hingga hari ini,” kata Aswad sembari memungut daun cengkeh.

Dalam sebulan, Aswad  empat kali menyuling minyak daun cengkeh. Sekali penyulingan Aswad bisa menghasilkan dua Liter minyak daun cengkeh. Bahkan dalam setahun, Aswad mampu menghasilkan 24 Liter minyak hasil penyulingan. 

Jika tengah selesai penyulingan, minyak daun cengkeh olahannya   dijual dengan harga Rp 20 ribu per 15 mili liter. Metode pemasaran Minyak  daun cengkeh melalui pasar swalayan Tara No Ate yang menjual berbagai produk lokal dan unggulan khas Ternate.

Setiap bulan, Aswad bisa meraup pundi-pundi rupiah hingga mencapai ratusan juta. Pria dengan tiga  anak itu merasa sangat terbantu dengan usaha  penyulingan minyak cengkeh. Hasil dari usaha penyulingan minyak cengkeh biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Hasil penjualan minyak cengkeh hanya untuk kebutuhan makan, kalo lebih untuk anak-anak sekolah,” tuturnya.

Sejak unit usaha minyak cengkehnya didirikan, usahanya baru mengantongi izin pada medio 2022. Menurutnya yang menjadi kendalanya melancarkan usaha itu, adalah ketersediaan laboratorium BPOM yang bisa menguji Minyak cengkeh buatannya.

Bahan baku pembuatan Minyak Cengkeh, biasa dipungut dari kebun cengkeh milik sendiri seluas  1 hektar. Selain menghasilkan minyak cengkeh dari kebunnya sendiri, ia juga sering membeli daun cengkeh dari petani setempat dengan harga Rp. 5000 per karung.

Aswad Minggu saat diwawancarai. Foto : Rifal Tomahutu

 

Sejarah Cengkeh

Cengkeh merupakan tanaman endemik Maluku Utara. Kondisi alam yang subur membuat cengkeh tumbuh subur di lereng gunung Ternate. 

Sejak abad ke III SM cengkeh sudah digunakan sebagai obat-obatan dan bahan pengawetan,  hal tersebut dibuktikan dengan penemuan arkeologi Cengkeh di sungai Eufrat, Suriah, sebuah situs peradaban Babilonia.

Baca Juga : Rumah Tila-Tila, Simbol Warga Leleseng Merawat Alam dan Menjaga Tradisi Bertani

Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara dikenal sebagai daerah penghasil rempah cengkeh terbaik dunia dan tempat dimana Cengkeh tertua di dunia, yaitu cengkeh afo.  

Tanaman yang bernama latin Syzygium aromaticum ini telah mengundang bangsa Eropa Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris  menjelajahi samudra untuk menemukan pulau penghasil rempah-rempah di Timur.

Dahulu cengkeh telah berperan dalam perniagaan dan peradaban besar Ternate pada Abad XIV di masa Kolano Sida Arif Malamo. Kala itu, Ternate telah menjadi kota pelabuhan dagang yang didatangi bangsa asing dari berbagai penjuru dunia, semisal Cina, India dan Persia.

Ternate sejak berabad-abad lalu telah menjadi pusat perdagangan rempah dunia. Cengkeh pada masanya dibandrol dengan harga  yang sebanding dengan 7 gram emas, hingga cengkeh dijuluki sebagai emas hitam.

Di masa VOC  harga cengkeh dikontrol pemerintah kolonial dengan memonopoli perdagangan cengkeh. Pemerintah VOC bahkan membuat kebijakan pemusnahan pohon cengkeh dengan Hongi Tochten, dengan tujuan mengontrol penjualan cengkeh kepada pedagang selain VOC.

Pelayaran Hongi menjadi titik  penebangan pohon cengkeh besar-besaran di daratan Ternate dan Tidore, yang tersisa dari Cengkeh yang dimusnahkan adalah Afo yang menjadi salah satu cengkeh tertua di dunia.

Cengkeh di Ternate kembali ditanami setelah penjajahan usai. Masa Orde Baru harga cengkeh melambung tinggi karena meningkatnya permintaan dari pabrik rokok yang membutuhkan pasokan cengkeh sebagai bahan baku utama. Para petani cengkeh kala itu menjadi sejahtera karena harga cengkeh yang mahal.

Namun kesejahteraan petani masa itu, tidak lama bertahan, karena pada tahun 1992 Soeharto mengeluarkan peraturan presiden yang mengatur penjualan cengkeh, melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dipimpin langsung oleh Tommy anak Soeharto.

BPPC menjadi salah satu badan yang mengontrol penjualan cengkeh, dengan aturan ini monopoli perdagangan cengkeh dikuasai keluarga cendana. Sebelum adanya lembaga BPPC harga cengkeh mencapai hingga Rp 20 ribu per kilogram. Ini harga tertinggi pada masa itu. Setelah adanya lembaga BPPC, harga cengkeh merosot hingga Rp 2000 ribu per kilogram.

Belakangan ketika Soeharto lengser, harga cengkeh mulai stabil dan bahkan pernah naik hingga Rp 200 ribu per kilogram, dan akhirnya turun hingga Rp80 sampai Rp100 per kilogram.

Kini harga cengkeh di bawah standar, petani cengkeh berupaya untuk mengolah cengkeh menjadi berbagai macam produk lokal, semisal Aswad yang mulai memanfaatkan daun cengkeh untuk produk minyak cengkeh olahannya.

Khasiat Minyak Atsiri  Daun Cengkeh 

Di kelurahan Tubo salah satu kampung tua Kota Ternate, cengkeh menjadi tanaman yang ditanami sebagian besar petani. Secara turun temurun petani cengkeh Tubo telah mengembangkan tanaman endemik itu secara massal.

Baca Juga : 19 Tahun Mengabdi, Kisah Deidel Mahmud Menjaga Semangat Pendidikan di Pelosok Negeri

Potensi cengkeh yang bergelimang, membuat Aswad berusaha untuk memanfaatkan daun cengkeh yang bagi kebanyakan orang dianggap sampah. Bagi Aswad cengkeh kaya akan manfaat, mulai dari pohon hingga daun dan batang mempunyai manfaat.

“Cengkeh ini banyak khasiat. Orang tua-tua dulu memanfaatkan cengkeh sebagai obat herbal. Bahkan orang cina, Arab, India, dengan Eropa datang kamari untuk cari tanaman surga itu, atas dasar itu saya punya semangat untuk bangun usaha penyulingan ini,” tutur Aswad.

Mengutip kshk.org,  minyak atsiri hasil penyulingan dari daun cengkeh memiliki manfaat sebagai bahan pembuatan parfum dan pemberi cita rasa makanan. Selain itu minyak atsiri juga menghasilkan antibakteri.

Pria kelahiran 1971 itu menuturkan, minyak daun cengkeh bermanfaat untuk mengobati berbagai sakit. Ia bilang minyak cengkeh berkhasiat dalam mengobati sakit kepala dan pegal-pegal.

“Minyak cengkeh ini banyak manfaatnya, kalo kepala sakit, urat kepala dengan minyak daun cengkeh langsung sembuh, minyak daun cengkeh berguna untuk minyak urut  saat badan pegal-pegal, dan sakit gigi serta  masih banyak manfaatnya  lainnya,” tuturnya. 

Daun cengkeh yang biasanya berserakan di bawah pohon cengkeh memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan bermanfaat bagi pengobatan.

Recent Posts

Dodengo: Seni Beladiri Suku Gamkonora Halmahera Barat

LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…

4 minggu ago

Lewat Sekolah Relawan, Anak Muda Sagea Perkuat Peran Jaga Lingkungan

LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…

1 bulan ago

9 Tahun Berkarya, LPM Mantra Galar Bukber Alumni

LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…

1 bulan ago

Aksi IWD FPUD: Suara Perempuan, Suara Kelas Tertindas

LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…

1 bulan ago

Eksistensi Ekuilibrium: Puisi-Puisi Wahyu Setiyawan

Akedemisi Horizon  Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…

1 bulan ago

Devaluasi Perlawanan Dan Kegagalan Structural Kesetaraan Gender

LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…

1 bulan ago