Gambaer: Galry Mantra
| Tak ada yang instan dalam menjadi seorang guru. Profesi ini menuntut ketulusan dan kesabaran untuk menuntun anak-anak menjemput mimpi mereka. Dalam pandangan masyarakat, guru adalah sosok berilmu yang dipercaya orang tua untuk membimbing anak-anak mereka. Di tengah maraknya kasus guru dilaporkan kepada polisi, dan ruang gerak mereka kian dibatasi. Guru yang semestinya menjadi penjaga nyala api pengetahuan justru perlahan didiskriminasi. Meski situasi ini terus menjadi persoalan, masih ada guru yang memilih bertahan demi menjaga nyala api itu tetap menyala bagi murid-muridnya. Harapan mereka sederhana, agar cahaya itu kelak menerangi masa depan para pejuang pendidikan. Hal tersebut dirasakan seorang guru yang telah mengabdi 19 tahun di sekolah pedalaman. Jauh dari kebisingan kota, ia terus melangkah demi satu tujuan yakni menciptakan generasi yang tangguh dan kuat. Ia adalah Deidel Mahmud (40), mengabdi untuk negeri tanpa pamrih. Sosok sederhana dengan semangat membangun yang tak pernah padam. Mendengar kata pedalaman, bayangan mengenai ketertinggalan kerap muncul di benak banyak orang. Terlebih ketika daerah tersebut jarang tersentuh sepatu kulit pejabat, gambaran tentang keterbatasan makin kuat. Namun dengan segala kekurangan yang ada, perempuan yang akrab disapa “Ibu Guru Deidel” tidak pernah mengurungkan niatnya untuk mengabdi di desa terpencil. Sembilan belas tahun bukan waktu yang mudah ditempuh. Jarang ada orang bersedia menetap dan mengajar di daerah terpencil. Tetapi di Desa Leleseng, tepatnya di SD GMIH Leleseng, ada seorang guru yang telah bertahun-tahun menjaga komitmen itu. Ada alasan mengapa perempuan 40 tahun itu tetap bertahan, bahkan setelah hampir dua dekade mengabdikan diri. Saat dikonfirmasi, ia menuturkan bahwa tugas guru merupakan pemberian dari Tuhan sehingga harus dijalankan sampai akhir.
Lebih jauh, baginya bertahan menjadi guru di pelosok merupakan wujud kecintaan terhadap tanah air. Ia meyakini bahwa menjadi guru adalah tugas mulia, sehingga ditempatkan di mana pun, ia siap menjalankannya.
Perempuan kelahiran Galela tahun 1983 itu kini dipercaya menjadi kepala sekolah di SD GMIH Leleseng, Kecamatan Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Sekolah yang jauh dari perkotaan ini masih menghadapi keterbatasan fasilitas, namun proses belajar-mengajar tetap berlangsung dengan berbagai metode yang disesuaikan. Daerah ini terletak di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Desa yang dihuni beragam suku bangsa ini hidup berdampingan bersama alam, budaya, dan tradisi. Menurut data BPS 2024, Desa Leleseng dihuni sekitar 368 jiwa dan berada di belantara hutan yang dikenal sebagai Lembah Kao Barat. Deidel bilang bahwa menjadi guru di pedalaman berarti harus siap menghadapi tantangan, terutama terkait fasilitas. Mereka yang telah merasakan manis pahit profesi ini memahami betul bagaimana bertahan di tengah keterbatasan, seperti kurangnya buku pelajaran, akses internet, listrik PLN, air bersih, dan sarana prasarana lain yang semestinya menjadi kebutuhan dasar pendidikan.
Namun di balik sukacita itu, ada kesulitan yang terus ia rasakan sepanjang pengabdiannya, termasuk kini saat menjabat kepala sekolah.
Kesulitan itu turut berdampak pada murid. Ia menuturkan bahwa akibat kurangnya fasilitas seperti buku, ada siswa yang telah duduk di kelas enam tetapi belum mampu membaca.
Menjadi guru di tengah berbagai persoalan pendidikan adalah perjalanan panjang yang menuntut keteguhan hati. Beban yang dipikul bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga masa depan anak bangsa. Guru dituntut bukan hanya mengajar, tetapi juga menuntun murid-muridnya keluar dari ketidaktahuan. Hal itu tampak dalam pengalamannya mendidik seorang siswa berkebutuhan khusus yang tidak dapat berbicara. Ibu Deidel tetap mengajarinya dengan metode konkret yang ia kuasai.
Menjelang akhir percakapan, Deidel menegaskan bahwa belajar tidak sebatas berhitung atau membaca. Baginya, perubahan karakter adalah inti dari pendidikan. Sore tiba dan angin gunung mulai turun menuju laut. Dalam kesunyian yang perlahan datang, sebuah notifikasi Facebook muncul. Terselip jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya luput saya tanyakan, tentang apa yang dilakukan ketika siswa malas belajar. Jawabannya membuat saya kagum. Ia menuturkan bahwa strategi utama adalah menciptakan ruang belajar yang menyenangkan dan penuh perhatian.
Membaca pesannya, pikiran saya kembali pada masa sekolah ketika guru-guru mendidik tanpa menuntut balasan, selain berharap murid-muridnya tetap belajar dan menjadi pribadi baik bagi lingkungannya. Dari guru menjadi orang tua, lalu menjadi sahabat bagi murid-muridnya adalah peran yang tidak mudah. Namun bagi Ibu Deidel, ia mampu menjadi apa pun yang dibutuhkan anak didiknya. Dari pelosok negeri, ia menjaga nyala api bagi mimpi anak-anak yang ingin menggapai mentari.
Penulis : Apdoni Tukang Editor : Agung/Pemred LPM Mantra |
LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…
LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…
LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…
LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…
Akedemisi Horizon Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…
LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…