LPM Mantra – Anak anak itu sumringah saat melihat kami datang membawa peralatan permainan tradisional. Suasana Pantai Kastela pun tampak semarak, seolah ikut menanti keriangan mereka di Sabtu, 20 September akhir pekan lalu.
Tanpa perlu teriakan atau panggilan, anak-anak usia belia ini seakan sudah tahu inilah waktunya bermain. Mereka bergegas saling merangkul, menuju area permainan yang tengah disiapkan.
Tanpa sekat usia, mereka bermain bersama, lebur dalam tawa dan keakraban. Kayu mulai menggores tanah, membentuk kotak-kotak permainan Sem sebuah permainan tradisional Maluku Utara. Dari garis-garis itulah strategi dibangun menghalangi lawan agar tidak menginjak kotak yang telah dibuat.
Sore yang singkat pun mulai digantikan senja menguning. Tak sampai disitu anak-anak ini masih menghabiskan keringat terakhir dengan permainan tradisional boy tempurung permainan tradisional dengan menyusun tempurung. Serentak mereka berteriak “Kena!”, teriak itu meletup ketika bola berhasil mengenai tumpukan tempurung lawan. Dengan gesit, para pemain menyusun kembali tempurung sambil menghindari lemparan bola. Keseruan sore itu diakhiri dengan Boy Tempurung.
Di tengah dunia yang semakin digital, anak-anak Kelurahan Kastela ini mendapatkan ruang bermain yang berbeda dari biasanya. Ruang ini hadir setelah Komunitas Lapang Warisan hadir mengingatkan kembali betapa menyenangkannya bermain bersama, tertawa lepas, dan menjaga warisan budaya tetap hidup.
Sejak 30 Mei 2025 lalu Lapang Warisan hadir sebagai wadah bagi anak-anak untuk mengenal kembali permainan lawas. Berawal dari kerinduan akan dolanan tradisional, komunitas ini pun terbentuk. Komunitas ini hadir untuk menghidupkan kembali ruang bermain yang nyaris terlupakan di Maluku Utara sejak lama dan di era gen Z familiar dengan handphone dengan fitur permainan game online.
“Kita membutuhkan agenda healing yang baru selain dari pigi pante (pergi ke pantai) naik gunung, nongkrong di cafe setiap weekend. Karena tong rasa kangen si bermain permainan dulu-dulu kayak begini (kita merasa kangen dengan permainan dahulu seperti ini). Sama tong sharing soal permainan ini so perlahan hilang, dampaknya ke anak-anak yang hanya fokus main gadget,” ujar Ain, salah satu pengurus Lapang Warisan dengan sumringah Sabtu sore pekan lalu.
Ia bilang sejak mulai merangkul anak sejak Mei lalu. Hingga kini kegiatan anak-anak bermain sudah menjadi agenda rutin yang tidak hanya diminati anak usia belia, namun juga untuk orang dewasa.
“Biasanya sih setiap Sabtu, kalu ujang atau ada kendala berarti minggu- tong target bikinnya setiap satu minggu sekali,” terangnya.
Di bawah bisik ombak Pantai Kastela yang menemani, 15 anak-anak dan 13 dewasa membentuk lingkaran. Permainan pertama pun dimulai. Lagu “Leng Kali Leng Cina Buta” berkumandang. Seorang anak duduk di tengah, sementara lainnya berputar sambil menyanyikan lagu dolanan tersebut.
“Setiap akhir pekan kami bersama anak biasanya bermain tiga permainan, dan dipekan ini, kami memulai dengan permainan pertama Leng Kali Leng, lalu dilanjutkan Sem, dan terakhir Boy Tempurung,”pungkasnya.
Penulis : Agung/Mantra
LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…
LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…
LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…
LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…
Akedemisi Horizon Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…
LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…