Pagi tadi, Rabu 19 November 2025, begitu terbangun saya langsung meraih gawai dan membuka beranda media sosial. Di sana terpampang unggahan terbaru dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra di akun Instagram. Ada berita soal Kawasi, disusul tulisan Agung—Redaktur LPM Mantra yang baru saja diangkat. Melihat itu, ingatan saya sontak terlempar jauh ke belakang, ke tahun 2018, saat pertama kali mengenal Mantra.
Pada Desember tahun itu, sebuah pamflet berwarna kuning menempel di dinding fakultas. Tanpa banyak pikir, saya mengambil formulir pendaftaran. Alasannya sederhana: saya ingin belajar menulis. Sejak awal masuk kuliah pada September 2018, saya berkali-kali mengirimkan tulisan ke email LPM, tetapi tak satu pun dimuat. Mungkin memang tulisan saya waktu itu tidak layak baca.
Akhir 2018, sekitar 20 mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya ikut workshop menulis—angkatan pertama LPM Mantra. Saya dan empat kawan sebaya—Ajun, Yusril, dan Agus—menjadi peserta termuda. Sebagian besar adalah senior yang sudah lama berkecimpung di kegiatan kemahasiswaan. Pelatihan itu menghadirkan pemateri yang cukup berpengalaman: Faris Bobero, pendiri Cermat.co.id, serta Rajif Duchlun yang kini menjadi Pemred Halmaheranesia.
Pelatihan selesai, tetapi status kami masih magang. Dalam tiga bulan proses yang cukup panjang, dari 20 orang hanya lima yang bertahan dan ditetapkan sebagai kader Mantra: saya sendiri, Ajun, Yusril, Fahrizal, dan Randi. Itulah momen pertama saya betul-betul merasa menjadi bagian dari sebuah ruang yang mendorong mahasiswa berpikir, bersuara, dan merawat kesadaran literasi.
Tahun 2019 adalah masa penuh dinamika. Saat itu LPM Mantra kerap terlibat dalam konsolidasi aksi dan aktif mengawal isu kampus maupun problem publik. Banyak kebijakan nasional yang memicu penolakan di berbagai daerah. Isu lingkungan, harga komoditas lokal, hingga persoalan masyarakat adat menjadi fokus liputan. Pada tahun yang sama, empat mahasiswa Unkhair—Yudi, Fahrul, Arbi, dan Ikra—dijatuhi drop out karena menggelar aksi soal HAM di Papua. Aksi mereka dilakukan di Kampus B Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Namun keputusan DO justru dikeluarkan Rektor Unkhair saat itu, Prof Husain Alting.
Kasus ini menjadi pembicaraan luas, tetapi tidak banyak media lokal yang memberitakannya secara mendalam. LPM Mantra dan Kultura (kini LPM Aspirasi) menjadi dua lembaga pers mahasiswa yang konsisten mengawalnya. Pemberitaan berjalan intens hingga akhirnya Mahkamah Agung membatalkan keputusan DO tersebut sekitar medio 2020. Itu menjadi salah satu capaian terbesar gerakan pers mahasiswa di Ternate.
Sejak didirikan pada 14 Maret 2017, LPM Mantra telah menjadi media alternatif yang memberi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk bersuara. Berita-berita yang mungkin luput dari perhatian media arus utama diangkat dengan kesungguhan. Dalam sembilan tahun terakhir, saya melihat bagaimana tiap tulisan yang lahir dari Mantra membawa semangat yang sama: memberi tempat bagi suara orang biasa.
Mantra bukan sekadar Unit Kegiatan Mahasiswa. Ia lahir dari keresahan mahasiswa—khususnya teman-teman BEM—melihat minimnya ruang literasi dan perlunya kanal kritis di kampus. Sebagai lembaga pers, Mantra tidak selalu sejalan dengan kebijakan kampus, dan itu justru menunjukkan independensi yang dijaga sejak awal. Dari tahun ke tahun lembaga ini melahirkan kader-kader muda yang kelak terjun ke dunia jurnalistik maupun advokasi.
Mantra didirikan oleh mahasiswa FIB: Alun Fiqri, Jamal Bobero, Rian Hidayat, dan beberapa mahasiswa lain. Adlun menjadi Pimpinan Umum pertama, disusul Jamal—yang akrab kami sapa Amai—dan kemudian Rian Hidayat Husni. Mereka bertiga meletakkan fondasi Mantra sebagai ruang yang hidup, memberikan arah, dan menjaga semangat untuk tetap dekat dengan publik.
Sembilan tahun bukan waktu yang pendek. Banyak tantangan yang dilalui, mulai dari berkurangnya minat mahasiswa, hingga kader yang datang dan pergi. Namun Mantra tetap bertahan—menjadi ruang belajar, tempat bertumbuh, dan rumah bagi mereka yang ingin menyuarakan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Dan selama suara-suara itu masih membutuhkan ruang, Mantra akan tetap hidup.
LPMMantra—Dodengo merupakan seni bela diri asli Suku Gamkonora yang menampilkan pertarungan satu lawan satu menggunakan…
LPM Mantra—Perkumpulan Fakawele kembali menggelar Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda…
LPMMantra—Peringati hari jadi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair)…
LPMMantra—Dalam rangka menyongsong International Women's Day, Front Perjuangan untuk Demokrasi (FPUD) Menggelar seruan aksi di…
Akedemisi Horizon Pemaparan luar biasa Polanya mencakar-kacar kedunguan Sang durjana tetap saja senyum dan sombong…
LPMMantra—Peringatan Internasional Women’s Day (IWD) telah mengalami kedangkalan eksistensial sebagai sekadar komoditas musiman. Apa yang…